Kemampuan dalam berliterasi siswa berbeda-beda dalam setiap individu, ada yang mampu dalam berliterasi yang menuangkanya dalam bentuk cerpen dalam sebuah imajinasi yang dituangkannya. Kali ini ada siswa Gema Galgani Novena Putri yang mampu dalam menulis cerpen dalam bentuk sebuah karya, Gema adalah salah satu siswa kelas IX yang masuk dalam Eksul Literasi di sekolah, berawal dari kegemaranya dalam membaca sebuah buku sehingga dia termotivasi dalam berkreasi untuk menulisya, melalui ide-ide yang dimiliknya Gema dapat menulis cerpen. Berikut adalah hasil karya Gema Galgani Novena Putri, selamat membaca.
Sumber Gambar: Kompasiana.com
HUTAN KEMATIAN ( Karya: Gema Galgani Novena Putri)
~~ Kringgg Kringg~~ Bel istirahat berbunyi. Semua siswa-siswi SMA Rajawali segera berlarian pergi ke kantin. Kecuali 4 sahabat yang masih tetap dikelasnya. Mereka adalah Lali, Acha, Feby, dan Vina. "WOII BESOK JADI KAN?" "Feb, gak usah teriak ngapa, kita di samping lu kali" jawab Vina Lali yang pelupa menggaruk tengkuknya yang tidak gatal sambil kebingungan "besok mau kemana?" tanyanya ragu-ragu. "ASTAGA LALI LU BENERAN LUPA APA GIMANA HEI?" Ucap Feby dengan intonasi tinggi.
Vani yang malas mendengarkan Feby yang terus-menerus berteriak akhirnya menjelaskan kepada Lali "Li, besok Kamis kita pergi ke hutan, kita mau uji nyali. Dan kita bakal nginep di rumah warga sekitar situ" "Hahhh Acha kan takut Vani, nanti kalo Acha mati disana gimanaaa?" Ucap Acha ketakutan. Feby sangat gemass dengan perkataan Acha ia pun membalasnya dengan teriakannya “HELOO ACHAAAA GA MUNGKIN LO MATI DI SANAA STOP DEH BERPIKIRAN GITU” “Iya iya feb, Acha tau ngomongnya ngga perlu teriak juga Acha bakal kedengaran kali” sindir Acha "Eh Van, kira-kira disana ngapain aja?" tanya Lali “Jangan tanya gue dong, tanya noh si Feby” “Besok disana itu kita bakalan uji nyali di hutan, kita uji nyali jam 00.00. Katanya sih yang bisa ngelakuin uji nyali di hutan tepat jam 12 malam, bakal dapat sesuatu yang kita inginkan.
Dan yang gak bisa ngelakuin uji nyali itu bakal kena imbasnya diujung hutan. Gue liat di internet, banyak orang hilang di hutan itu karena ga bisa ngelakuin itu uji nyali” jelas Feby Acha yang mendengarnya langsung merinding ia takut tak bisa melakukan uji nyali tersebut “A-acha besok gak ikut y-ya Acha takut” “Tenang aja Cha, kita semua pasti bisa ngelakuin ini” ucap Lali “Hm iya deh kita pasti bisa” Paginya, mereka berkumpul di rumah Vina, mereka telah mempersiapkan segala sesuatu yang akan mereka butuhkan di desa itu.
Acha masih tidak percaya bahwa ia akan ikut uji nyali ini. Acha berharap tepat jam 12 malam nanti, mereka semua ketiduran. “Ini beneran kita pergi ke desa itu ya?” “Yaiyalah Achaaa gimana sih lu ni. Ini kita udah mau berangkat Achaa. Cepetan naik ke mobilnya sono” perintah Feby. Selama perjalanan, Acha gelisah. Ia sangat takut jika nantinya ia tak selamat di hutan nanti. Ia takut jika ia akan mati di hutan. Ia takut jika tak bisa bertemu orang tuanya lagi. Ia sangat takut. Saat Feby melihat Acha yang sedang melamun, muncullah ke isengannya “WOI CHA NGELAMUN AE LO. MIKIRIN SAPA?MIKIRIN ANJING LO DIRUMAH?” teriaknya di telinga Acha. “Brisik lu feb, udah tau gue lagi nonton drakor, lu malah teriak huh” sesal Vina. “ASTAGA FEBYYYYY AKU KAGET TAU GAK. HUH POKOKNYA AKU KESEL SAMA FEBY!” jerit Acha kesal. “Cha jangan kesel sama Feby yaaa plisss, nih aku kasih coklat kesukaan kamu.
Atau yogurt ini biasanya kamu beli tiap minggu kan? Oh iya aku ada rumput laut jugaa kamu pasti suka kan?” papar Lali menawarkan jajannya kepada Acha. “Ihhhh apaan sih Lali ini. Emangnya kenapa kalo Acha marah sama Feby?” “Nanti kalo kamu marahan trus kamu tersesat dihutan siapa yang mau nolong? Pasti dia kompor komporin aku sama Vina supaya gak cari kamu Cha” “Ih iya deh Acha minta maaf” Setelah pertengkaran kecil itu, mereka semua tertidur. Saat sudah mau memasuki wilayah desa, Lali terbangun dan melihat ke jendela mobil. Ia melihat banyak sekali warga desa yang menyambutnya.
Di rombongan warga, ia juga melihat satu mahluk halus yang kelihatannya baik, mungkin. “Hah itu kuntilanak kan? Ternyata benar kalo disini banyak mahluk halus yang bersembunyi di sela-sela warga, hmm ngeri rupanya desa ini. Aku harus hati-hati sekali” ucapnya dalam hati. Lali mencari beberapa fakta maupun mitos tentang desa itu di internet. Ia membaca banyak sekali tentang mahluk halus yang ada di desa ini. Ada mahluk halus yang membunuh warga terang-terangan, mahluk halus yang menjaga rumah warga, mahluk halus yang memakan bayi di depan umum, dan masih banyak lagi. Ia terkejut saat membaca 'Seorang Lelaki Menikah dengan Kuntilanak'. Ia membaca bahwa setelah menikah lalu memiliki anak, rumah pria itu menjadi sering terkena musibah.
Kabarnya sekarang anak dan pria yang menikahi kuntilanak itu telah dimakan oleh kuntilanak tersebut. Lali membaca sedikit kebawah lagi dan ia membaca bahwa kuntilanak itu telah di bakar warga. Mitosnya, kuntilanak yang dibakar warga tersebut sering berada di desa-desa untuk sekedar menakuti warga maupun membunuh warga untuk membalaskan dendamnya. Dan katanya, kuntilanak itu sering menjelma menjadi manusia yang cantik maupun roh baik. Lali merinding membaca artikel dari internet itu. “Apa kuntilanak yang kulihat tadi adalah kuntilanak yang dibakar warga?” gumamnya pada dirinya. “Lu ngapain Li?” tanya Vina sambil menggosok-gosok matanya. “Hah eh kamu udah bangun? Ini aku lagi baca-baca artikel. Feby dan Acha terbangun mendengar obrolan Lali dan Vina.
Mereka berbincang-bincang sejenak sambil melihat pemandangan menuju desa tengah. Sementara Lali, masih memikirkan perihal kuntilanak tersebut. “WOI LALI JANGAN NGELAMUN, KITA DAH MAU SAMPE DI HUTANNYA NTAR LO KESAMBET KAGA LUCU LALII” teriak Feby “Iya iya feb maap.” Beberapa menit kemudian, mereka tiba di hutan tengah tersebut tepat mereka untuk beruji nyali. Sampai disana mereka disambut oleh pak kades dan warga.
Mereka disambut baik oleh warga desa tengah. “Selamat datang para gadis. Perkenalkan saya pak kades disini. Nama saya Andre. Ini istri saya namanya Santi, bu kades. Oh iya kalian akan dimandikan bunga, dan melaksanakan beberapa ritual lainnya” papar pak Andre. “Terima kasih pak, Perkenalkan nama saya Vina, sebelah kanan saya ini Feby, sebelah kiri saya Acha dan di sebelah Acha ada Lali. Semoga kami betah-betah disini. Dan semoga tidak merepotkan bapak juga warga sekalian” imbuh Vina. Pak kades dan bu kades memerintahkan warga untuk menyiapkan beberapa ritual yang akan diadakan untuk keempat gadis.
Ritual ini di adakan supaya mereka terhindar dari segala marabahaya yang akan menimpa mereka. Biasanya, ritual ini diadakan saat ada tamu yang datang kedesa itu. Saat para warga sedang mempersiapkan ritual, lagi-lagi Lali melihat seorang perempuan cantik yang sedikit mirip dengan kuntilanak. Ia curiga kalau perempuan itu adalah kuntilanak yang ia lihat di desa satu tersebut. Perempuan yang Lali curigai menghampiri Lali.
“Hai mengapa kamu memperhatikan ku?” tanya perempuan itu. Lali seketika gugup mendengar pertanyaan dari perempuan itu. Rasanya ia ingin hilang begitu saja. Ia sebenarnya takut “h-hah t-tidak apa, kau terlihat bbegitu cantik” “jangan terlalu gugup cantik. Perkenalkan namaku Sila” “i-iiya, namaku Lali” Acha menghampiri Lali yang sedang berbicara dengan Sila “Hai Lali, dengan siapa kamu berbicara itu?” “Acha perkenalkan namanya Sila. Sila perkenalkan ini Acha” “Hai Sila, aku dan Lali pergi kesana dahulu ya, karena ritualnya sebentar lagi dimulai” ucap Acha “ah iya byee” balas Sila Acha dan Lali pergi meninggalkan Sila dan menghampiri Feby dan Vina yang sudah duduk di kursi untuk melaksanakan ritual. Pak kades yang melihat Acha dan Lali datang, langsung menyuruh mereka duduk. “Dari mana aja sih lu?” tanya Feby kepo. “stt diem ritualnya dah mulai” bisik Vina. Ritual pun dimulai.
Pertama mereka masing-masing dimandikan bunga untuk mencegah mereka hilang di hutan. Pak kades menyiramkan gayung pertama sambil membacakan mantra. Konon mantra tersebut dipercaya untuk melindunginya dan memimpin setiap orang yang pergi ke hutan ini. Ritual kedua, mereka diharuskan meminum telur mentah yang di campur madu pahit di gelas sampai habis. Ritual ini dipercaya dapat melindungi dari mahluk halus yang mengincar nyawa mereka. Lali sebenarnya tidak suka dengan minuman itu. Tapi demi melindungi nyawanya Lali meminumnya sampai habis. Ritual yang ketiga mereka harus mengitari pohon besar di desa tengah sebanyak 5 kali. Ritual ini dipercayai dapat meninggalkan jejak jejak bila salah satu dari mereka hilang di hutan. “A-acha capek feb” Keluh Acha. “Aelah Cha yang kuat dong, demi keselamatan kita chaa. Semangattt” ucap Feby ke Acha. Acha yang mendengar kata semangat dari Feby seketika berteriak “IYAA ACHA SEMANGATT”. Feby, Vina dan Lila hanya menggeleng-geleng melihat tingkah Acha yang seperti anak kecil. Setelah mereka menyelesaikan ritualnya, mereka beristirahat di rumah kosong yang dahulu milik warga. Mereka mandi bergantian dan setelah mereka mandi, mereka langsung makan makanan yang telah di sediakan warga. “Hemm makanannya enak bangett Acha suka” ujar Acha sembari menguyah makanannya. “Cha, makan dulu baru ngomong, jangan kebiasaan deh” Cibir Vina Acha makan sangat lahap, tanpa memperdulikan perkataan Vina. Setelah mereka semua makan, mereka pergi tidur untuk persiapan malam nanti. Sesaat mereka semua tertidur, Lali terbangun karena tak bisa tidur. Ia melihat Sila di hadapannya. Sila sedang melihatnya dan teman-temannya dengan tatapan penuh nafsu. “S-sila k-k-kau k-kenap-pa?” “Aku hanya menjaga tidur kalian Lali, tidak ada apa apa” ucap Sila sembari tersenyum. Sila pergi kedapur membawakan makanan untuk Lali. Lalu ia kembali dan memberikannya kepada Lali “Lali, makanlah aku tahu kamu lapar. Aku pergi keluar dahulu.” “Ah iya terima kasih.” Setelah memberikannya, Sila pergi keluar rumah dengan kegirangan. Ia senang mangsanya menuruti perintahnya. “HAHAHAHAHA LALI, LALI BODOH SEKALI KAMU HAHAHAHA.” Disisi lain, Lali merasa aneh dengan tingkah Sila. Ia membaca-baca di internet dan ia membaca tentang kuntilanak pemakan itu. Dan di lihatnya kuntilanak itu sangat mirip dengan Sila. Ia melihat ada artikel yang mengatakan, 'kuntilanak itu suka bila mangsanya menuruti perintahnya. Ia akan menyuruh mangsanya untuk makan, makan, dan makan sampai mangsanya kekenyangan' Lali seketika memuntahkan makanannya.
Namun sayang ia telah terkena hipnotis dari Sila. Vina, Feby, Acha sudah bangun dan merasa aneh dengan tingkah Lali yang tak seperti biasanya “Li, lu kenapa si mojok terus, ati-ati ntar kesambet ga lucu Li” ucap Vina “Hm” balas Lali singkat. “Vina, Lali kenapa sih kok gitu” tanya Acha “Gue juga ga tau Chaa” “efek bangun tidur kali, atau jangan jangan dia kesambet?” Decak Feby Vina melotot seketika mendengar ucapan Feby.
“Jangan ngomong gitu, ntar kalo nyata gimana?” Mereka semua bingung melihat tingkah Lali yang seperti kemasukan setan. Mereka memilih membiarkan Lali karena sebenarnya mereka juga takut. Tengah malam pun tiba. Mereka semua bersiap-siap untuk pergi ke hutan dengan membawa 4 senter dan 2 lilin. Mereka juga membawa handphone mereka jaga-jaga kalau ada apa-apa. Mereka telah tiba di pinggir hutan di kawal dengan beberapa warga, kepala desa dan juga “Sebelum memasuki hutan, alangkah baiknya jika diawali dengan berdoa dahulu” ucap pemimpin adat.
Mereka semua berdoa sesuai agama dan kepercayaan masing-masing. Seusai berdoa, mereka berempat masuk ke dalam hutan dengan menggunakan senter. Para warga segera pulang ke rumahnya masing-masing. “A-ac-acha takut, disini gelap banget. Acha juga takut liat Lali.” rengeknya kepada Feby dan Vina. “Cha, itu yang lu pegang paan si? Idupin dong ah biar ga gelep” sindir Vina. “Hehehehe Acha lupa” “Lupaa terosss lo mah” Ledek Feby. Lali yang sedari tadi hanya diam, tiba-tiba ia membuka suara. Bukannya mereka membalasnya, mereka malah ketakutan mendengarnya, karena suara Lali tidak seperti biasanya. “Diem lo semua, gausah berisik bego.
” Mereka bertiga seketika bertanya-tanya kenapa Lali berkata begitu kasar, padahal sebelumnya ia tidak pernah berkata kasar seperti itu. Mereka berbisikbisik. “Dia kenapa ya?” tanya Vani. “Gue juga gak tau elah” bisik Feby “GAUSAH NGOMONGIN GUE, BERISIK KALIAN YA” Mereka semua terdiam dan melanjutkan perjalanannya. Dan tiba-tiba, “HIHIHIHIHIHIHI” “SUARA APA ITUUUU?” teriak Acha ketakutan.
“Feb, itu suara apa feb? Hutan ini ga ada setannya kan?” tanya Vina gemetar. “KAGAA WOI BENERAN KAGA ADA, ITU TADI SUARA APAAN GILA” Lali yang mendengar suara itu terdiam dan pergi ke atas pohon beringin. Mereka bertiga terkejut melihat Lali yang naik ke atas pohon. “Lali kayak di hipnotis deh, mau di suruh suruh,” ucap Acha pelan. Sesaat setelah Acha berkata tiba tiba, “AAA TOLONG GUEE, TOLONG GUEE.” Feby. Dia tergantung di atas pohon yang tinggi. Darahnya pun bercucuran. Ia sempat di tikam oleh mahluk halus tadi. “Vin, Cha, kalian selamatin Lali aja. Paksa dia untuk turun dari pohon itu. Gue gapapa kok disini. Kalian pergi aja cari bantuan. Gausah perduliin gue, yang terpenting adalah kalian selamat.
” Lirih Feby dengan darah bercucuran deras. Vina tak setuju mendengar perkataan Feby. Ia berteriak dan berkata “FEBY JANGAN MIKIRIN KITA DOANG, GUE BAKAL KE ATAS UNTUK SELAMATIN LO. LO YANG KUAT FEB. LO HARUS KUAT, GUE TAU LO KUAT. TUNGGU GUE FEB” “Udah, lo selamatin diri lo, Acha, dan Lali aja. Kalian cari bantuan supaya bisa selamatkan gue. Gue bakal lebih tenang kalo kalian selamat.” “I-IYA FEB I-IYA” Sedari tadi, Acha menyelamatkan Lali dari hipnotisnya. Sebenarnya, sekarang ini ia sangat takut dengan Lali, walaupun Lali pingsan. Tapi tetap saja ia takut jika tiba-tiba Lali mengejutkannya dengan hal-hal yang menyeramkan “V-vina Acha berhasil bawa Lali” “Cha lo pinter banget. Ayo kita segera lari, keburu nyawa Feby ga selamat.
” Mereka semua segera berlari. Tetapi sayang, Acha tertinggal jauh. Acha sangat merasa pegal karena ia mempapah Lali dari tadi. Ia berteriak mencari Vina, namun yang datang malah Sila. “Sila, kamu disini? Bisa tolongin Acha bawa Lali engga? Tolong dong pliss” pinta Acha. “Oh sini aku bawain Lali nya.” Setelah Sila membawa Lali, tiba-tiba hal yang tak terduga terjadi. Sila memakan Lali di depan mata Acha. Sila seketika berubah menjadi wujud aslinya, yakni kuntilanak. Acha sangat terkejut melihat hal tersebut. Tanpa pikir panjang dan banyak omong, Acha segera lari mencari Vina. Sepanjang jalan ia menangis karena hal ini. Acha itu phobia darah.
Mungkin setelah kejadian ini ia akan mengobati mentalnya. Acha melihat seorang perempuan yang tergeletak di dekat sebuah batu besar. Acha pun menghampiri nya. Ia terkejut saat melihat bahwa perempuan itu adalah Vina. Acha benar-benar ketakutan sekarang. Setelah Feby tergantung di pohon, Lila yang dimakan Sila, dan Vina yang tergeletak dalam keadaan meninggal. Ia benar-benar ingin keluar dari hutan itu sekarang juga.
Karena terlalu banyak berfikir, tiba-tiba Acha di hampiri seorang genderuwo dan Sila si kuntilanak. “Hai cantik, mari main dengan kami” ucap Sila ke Acha Acha terkejut dengan datangnya kedua mahluk halus itu. Seketika ia berlari untuk menghindari kedua mahluk itu. Namun nahas ia di hadang oleh genderuwo. Ia dibunuh oleh genderuwo dan di makan oleh kuntilanak itu. 3 hari sudah kematian mereka. Para warga merasa tidak wajar dengan keadaan ini.
Mereka memutuskan untuk mencari ke hutan dan mereka melihat Feby yang tergantung dan Vina yang tergeletak. Disana juga mereka membaca sebuah tulisan yang bertuliskan 'maaf yang dua lainnya udah di makan.’ Akhirnya, para warga membawa mayat Vina dan Feby dan menguburkannya.
Sejak saat itu hutan itu di sebut 'Hutan Kematian'. Dan hutan itu pun tidak boleh di masuki oleh semua orang lagi.
Dari cerpen tersebut dapat diambil sebuah pesan untuk kita semua yaitu " Jangan mudah menaruh kepercayaan kepada orang yang baru kita kenal, karena kita tak tahu bagai mana sifat dan sikap asli orang barun tersebut. Seperti Lila yang awalnya percaya kepada Sila justru ia yang menjadi orang pertama yang terhipnotis dan termakan oleh Sila.
Terima kasih sudah membaca.

3 Komentar
Terus kembangkan bakatnya ya nak, smg cita" terkabulkan & menjadi anak yg Rendah Hati serta slalu Bersyukur.
BalasHapus🙏
Kembangkan trs talentanya ya nak, smg apa yg menjadi cita" nya terkabukkan.
BalasHapusJadilah anak yg rendah hati & slalu bersyukur 🙏
mantap lur.... semoga terus semangat nulisnya
BalasHapusSilahkan Tulis Komentar Anda pada kolom dibawah ini
Emoji